Jakarta Dan Sepakbola


Apa yang pertama kali muncul di benak kepala ketika mendengar Kota Jakarta? Mungkin padatnya, macetnya atau mungkin ondel ondel yang suka muncul pada saat kita makan? Jakarta memang terkenal sebagai kota metropolitan dengan gaya hidup masyarakatnya yang modern dan dinamis. Semua itu memang sudah menjadi bagian dan sudah tidak dapat dipisahkan dari Ibukota Jakarta. Kota yang amat sangat sibuk, kota yang tidak pernah tidur, dan kota yang sangat padat. Jakarta menjadi tempat yang ramah, bagi para pendatang berbagai macam suku dan budaya melebur menjadi satu dan hidup saling berdampingan.

Berbicara tentang Jakarta tidak lengkap rasanya bila tidak dengan sepakbola, Persija adalah klub asal ibukota yang didirikan oleh Soeri (klub setyaki) dan A. Alie Subrata (klub Setia Tuhu Enggone Rukun/STER) pada 28 November 1928 dengan nama awal voetbalbond boemipoetera (VBB). Hanya selang setahun sejak terbentuknya, konflik pun terjadi hingga akhirnya harus dikeluarkan dari Voetbalbond Batavia en Omstreken sejenis PSSI pada masa Hindia-Belanda. Dan terbentuklah Voetbal Indonesische Jacatra (VIJ) pada 30 Juni 1929. Pada periode awal VIJ bermarkas di Petojo. Pada masa keawalannya VIJ sebagai alat perjuangan untuk memerdekakan bangsa dari tindak-tanduk kolonialisme. Artinya, VIJ terbentuk dengan cita-cita dan nilai-nilai nasionalisme yang kuat. Terdapat tokoh-tokoh besar yang turut serta dalam membangun sejarah Persija seperti Muhammad Husni Thamrin dan Habib Kwitang. Barulah pada saat masa-masa kemerdekaan berganti nama menjadi Persija.

Namun kita juga kenal sisi Jakarta yang menyenangkan, mulai dari tempat makan & nongkrong yang high class hingga low class pun dapat kita jumpai di kota ini. Serta mudahnya transportasi di Jakarta yang membuat nyaman bagi masyarakatnya. Namun yang mencakup semua strata kelas sosial dari kelas bawah, menengah, dan kelas atas yang ada di Jakarta hanya sepakbola yang menjadi alat pemersatu bagi kita semua, karena ketika di dalam tribun tidak ada yang namanya perbedaan kelas diantara kita semua, tujuan fokus tertuju mendukung tim kebanggaan yaitu Persija Jakarta.

Jakarta dan Persija tidak dapat dipisahkan karena sudah menjadi satu kesatuan yang saling terikat bagi kami The Jakmania, Jakarta sudah seperti harga diri yang akan selalu kami jaga kota yang kami cintai ini dan Jakarta juga sudah melekat didalam jiwa. Meskipun Kota Jakarta terdapat banyak multietnis namun rasa memiliki itu sangat erat karena masyarakat merasa tinggal di Jakarta dan mencari nafkah di Jakarta maka rasa bangga ketika mendukung tim sepakbola asal Jakarta pun begitu antusias karena sudah tidak mengenal asal daerahnya masing-masing seperti potongan lagu yang dibuat oleh The Jakmania “Tinggalkan ras tinggalkan suku satu tekad dukung persija dibawah bendera Jakmania, majulah Persija pantang mundur” yang memiliki makna tidak ada perbedaan darimana asal kita, usia kita, kelas sosial ekonomi kita, ketika kita mendukung tim kebanggan Persija Jakarta kita adalah The Jakmania. Apalagi untuk mendapatkan hiburan di Jakarta bisa dibilang cukup merogoh kocek sangat dalam, maka salah satunya adalah menyaksikan pertandingan sepakbola di Jakarta sehingga lama kelamaan rasa memiliki kota dan tim sepakbolanya pun semakin besar.

Kini tim berjuluk macan kemayoran perlahan-lahan berbenah menuju tim yang lebih profesional, manajemen persija kini mulai berbenah kearah yang lebih baik dan juga merekrut pemain-pemain yang berkualitas agar dapat meraih gelar juara di liga Indonesia dan mampu bersaing di level asia dan tentunya juga untuk mengharumkan nama Indonesia. Kita sebagai pemain ke-12 sejatinya terus mendukung Persija kearah yang lebih baik. Organisasi The Jakmania pun memiliki perkembangan yang signifikan, The Jakmania dapat dikatakan sebagai salah satu Supporter paling terorganisir yang ada di Indonesia dikarenakan tegasnya himbauan yang dilakukan oleh Pengurus Pusat untuk mendukung menggunakan akal sehat dan meninggalkan rivalitas yang dapat menimbulkan korban jiwa. Terbukti sejauh ini The Jakmania sudah meninggalkan citra buruk yang diberikan di masa lalu dan ini akan terus dipertahankan dan semoga menjadi contoh bagi Supporter lain yang ada di Indonesia.

Indonesia dan seluruh dunia sedang mengalami masa sulit karena adanya Pandemi Covid-19, Jakarta khususnya diharapkan segera bangkit seperti semboyan yang diberikan oleh Jan Pieterszoon Coen selaku Gubernur Jendral VOC yang menguasai Batavia (Jakarta) menggunakan semboyan “Dispereert Niet” yang berarti “Jangan Putus Asa”. Semboyan ini cocok untuk digunakan kembali mengingat situasi pandemi ini kita harus tetap optimis dan percaya bahwa Jakarta akan bangkit dari situasi seperti ini.

Komentar

Posting Komentar